www.akukanker.com

Buta Warna - Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

Buta warna merupakan berkurangnya kualitas pengelihatan terhadap warna yang biasanya diturunkan kepada anak dari orang tua sejak dilahirkan. Penderita buta warna cenderung mengalami kesulitan saat melihat warna merah, hijau, biru atau campuran warna-warna ini. Kasus buta warna total sangat jarang ditemukan dan kebanyakan penderita buta warna dapat menyesuaikan dengan keadaan. Sehingga tidak selalu dianggap kondisi yang serius. Beberapa kasus penyakit buta warna juga dialami pada fase hidup dewasa.

iklan

Penderita buta warna mungkin hanya dapat melihat beberapa gradasi warna, sementara sebagian besar orang yang normal bisa melihat ratusan warna. Gejala lainnya yaitu sebagian besar penderita tidak dapat membedakan antara warna merah dan hijau, akan tetapi dapat melihat warna biru dan kuning dengan mudah. Sebagian orang bahkan tidak menyadari bahwa mereka mengalami buta warna sebelum menjalani tes pengelihatan warna.

Sebagian besar penderita buta warna akan sulit membedakan gradasi warna merah, kuning, dan hijau seperti warna oranye dan coklat. Tipe ini disebut dengan buta warna merah-hijau. Tipe ini juga menjadikan penderita sulit membedakan antara warna merah dengan warna hitam dan berbagai gradasi warna ungu.

Pria mempunyai kecenderungan mengalami buta warna tipe ini lebih besar dibandingkan dengan wanita. Tipe buta warna yang paling jarang terjadi adalah buta warna tipe biru-kuning di mana penderita tidak dapat membedakan warna biru dan kuning.

Proses melihat warna melintasi spektrum cahaya diawali dengan kemampuan alamiah mata dalam membedakan warna-warna dasar, seperti warna merah, biru dan hijau. Akan tetapi mata seseorang penderita buta warna tidak bisa melihat atau membedakan warna sebagaimana mata normal. Hal ini terjadi sebab ada gangguan pigmen pada reseptor pengelihatan warna (sel kerucut di mata). Ketika salah satu pigmen hilang, maka mata akan memiliki masalah dalam melihat warna tertentu.

Faktor Penyebab Buta Warna

buta warna

Seorang penderita buta warna dari berbagai jenis kondisi di atas bisa melihat warna-warna tersebut lebih kusam dibandingkan orang yang memiliki pengelihatan normal. Dalam banyak kasus, buta warna diakibatkan oleh faktor genetik orang tua, akan tetapi dapat saja terjadi akibat efek sampiung dari sebuah pengobatan atau gangguan kesehatan yang telah ada sebelumnya.Berikut ini beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya buta warna:

Faktor genetik
Kebanyakan penderita buat warna yang mengalaminya sejak lahir disebabkan oleh faktor genetik yang berikatan dengan kromosom X. Seorang ayah penderita buta warna tidak akan mendapatkan anak yang menderita buta warna kecuali pasangan yang mempunyai gen buta warna. Hal ini mungkin karena wanita lebih berperan dalam menjadi pembawa gen (carrier) yang akan mewarisi buta warna kepada anak. Penderita buta warna akibat faktor genetik juga jauh lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita, walau terkadang kondisi ini dapat melewati satu generasi. Anak perempuan dipastikan mengidap buta warna jika kedua orang tua adalah pembawa gen buta warna.

Penyakit
Terdapat sejumlah penyakit yang dapat menyebabkan buta warna, seperti penyakit pankinson, penyakit Alzheimer, glaukoma, kanker darah (leukemia), diabates, pecandu minuman berakohol kronis, degenerasi makula dan anemia sel sabit.

Usia
Kemampuan seseorang untuk membesakan warna perlahan-lahan akan berkurang seiring pertambahan usia. Ini merupakan hal alami dalam proses penuaan dan tidak perlu dicemaskan secara berlebihan.

Bahan kimia
Seseorang dapat mengalami buta warna apabila terpapar bahan kimia beracun, misalnya di tempat kerja, seperti karbon disulfida dan pupuk.

Efek samping pengobatan tertentu
Beberapa pengobatan berpotensi mengakibatkan buta warna, seperti digoxin, phenytoin, klorokuin dan sildenafil. Apabila gangguan disebabkan oleh pengobatan, umumnya pandangan akan kembali normal setelah berhenti mengonsumsi obat.

Pengobatan Buta Warna

Untuk pengobatan buta warna sendiri sampai saat ini belum ada obatnya. Akan tetapi teknologi saat ini telah dapat mengobati buta warna untuk lebih mudah beradaptasi terhadap kondisinya, seperti lensa mata khusus atau perangkat elektronik yang bisa diatur sedemikian rupa. Orang-orang di sekitar pengidap buta warna pun bisa turut membantu, contohnya denan menyiapkan alat belajar sesuai atau memeriksa makanan sebelum dikonsumsi pengidap.

Gejala buta warna masih bisa dikurangi dengan mengobati keadaan yang mendasarinya atau jika buta warna yang dideritanya diakibatkan oleh pengobatan tertentu akan gangguan kesehatan yang telah ada sebelum. Konsultasikan dengan dokter spesialis mata anda mengenai pilihan terapi yang terbaik untuk anda.