www.akukanker.com

Mata Hipermetropi - Penyebab, Gejala dan Pengobatannya

Hipermetropi atau Hiperopia atau rabun dekat adalah kelainan refraksi mata di mana bayangan dari sinar yang masuk ke mata jatuh di belakang retina. Hal ini dapat disebabkan karena bola mata yang terlalu pendek atau kelengkungan kornea yang kurang.

iklan

Hipermetropi adalah keadaan mata yang dapat melihat dari jarak jauh lebih baik daripada jarak dekat. Cacat mata ini disebabkan ketika melihat benda lebih dekat maka bayangan akan jatuh di belakang retina. Mata hipermetropi adalah mata dengan lensa yang terlalu pipih atau bola mata terlalu pendek. Benda/objek yang dekat akan terlihat kabur karena bayangan jatuh di belakang retina, sedangkan objek yang jauh akan terlihat jelas karena bayangan jatuh di retina. Cacat mata ini dapat ditolong dengan kacamata berlensa cembung. Lensa cembung bersifat konvergen/mengumpulkan cahaya, sehingga bayangan benda yang jatuh di belakang retina jatuh tepat di retina.

Pada kondisi normal, lengkungan kornea, elastisitas lensa serta panjang bola mata berada dalam kombinasi yang pas sehingga cahaya yang masuk bisa difokuskan ke retina mata. Namun, apabila kornea terlalu datar, lensa tidak elastis, ataupun bola mata yang terlalu panjang sehingga membentuk kombinasi yang tidak pas, maka mata tidak bisa memfokuskan cahaya dengan benar sehingga penglihatan menjadi kabur. Pada kondisi ini cahaya yang masuk di fokuskan ke belakang retina, hal ini bisa terjadi apabila kornea terlalu datar, bola mata terlalu pendek, atau lensa yang tidak bisa mencembung (tidak elastis, khususnya pada presbiopi).

Ada berbagai tingkat keparahan penyakit ini, tergantung pada kemampuan mata untuk fokus melihat benda dekat. Jika Anda hanya dapat melihat dengan jelas objek yang sangat jauh, dan sulit sekali melihat objek yang dekat, maka berarti Anda memiliki rabun dekat yang parah. Untungnya kondisi ini mudah untuk memperbaiki.

Gejala dan Penyebab Hipermetropi

mata hipermetropi

Seseorang lebih mungkin memiliki rabun dekat jika orang tuanya juga mengalaminya. Kadang-kadang banyak yang bingung apa perbedaan hipermetropi dengan presbiopi, yang sama-sama menyebabkan rabun dekat. Pada hipermetropia kelainan ini umumnya ada sejak lahir dan akan membaik saat dewasa ketika bola mata tumbuh memanjang. Sedangkan pada presbiopi, rabun dekat terjadi akibat proses penuaan.

Seseorang yang memiliki rabun dekat, maka matanya harus bekerja keras untuk melihat apa-apa yang dekat. Hal ini tentu akan menyebabkan kelelahan mata. Beberapa gejala penyakit ini disebabkan oleh kelelahan mata tambahan ini antara lain: Ketegangan Kelelahan Penglihatan kabur saat melihat dekat Menyipitkan mata agar bisa melihat lebih jelas Sensasi sakit atau terbakar di sekitar mata Sakit kepala setelah membaca atau tugas-tugas lain yang mengharuskan untuk fokus pada objek yang dekat.

Pada orang dewasa, masalah rabun mata akan terjadi seiring bertambanya usia.Orang dewasa yang mengalami gangguan penyakit ini akan memiliki beberapa gejala diantaranya ia akan rabun ketika melihat benda yang dekat, tetapi ia bisa melihat secara jelas terhadap benda benda yang jauh. Selain itu orang yang mengalami hipermetropi akan melihat secara jelas dengan menyipitkan mata. Penderita juga akan mengalami kelelahan pada mata setelah melihat dan foku terhadap benda yang dilihatnya seperti membaca dan memandangi layar komputer.

Sementara itu hipermetropi pada anak anak memiliki gejala seperti mata merah, terlalu seing menggosok mata, menyipitkan mata ketika ingin melihat benda yang dekat, berkedip lebih sering dari biasanya, memiliki masalah dalam membaca, serta sakit kepala.

Penyebab hipermetropia biasanya terjadi karena faktor genetik ( keturunan ). Rabun dekat merupakan gangguan pada mata yang dapat terjadi pada semua usia tetapi cenderung menjadi lebih terlihat di atas usia 40 tahun.

Meski hal ini jarang terjadi, hipermetropia juga dapat disebabkan oleh kondisi lain seperti diabetes , Mikroftalamia, kanker sekitar mata dan masalah dengan pembuluh darah di retina.

Selain faktor genetik dan masalah diabetes, penyebab terjadinya rabun dekat atau hipermetropi adalah faktor usia. Kebanyakan mereka yang megalmi rabun dekat rata rata pada usia 50an, dimana lensa mata menjadi lebih kaku.

Pengobatan Mata Hipermetropi

Untuk mengatasi penyakit ini biasanya diberikan tindakan seperti penggunaan kacamata, lensa kontak, dan dilakukan pengobatan dengan cara operasi. Kaca mata dianggap sebagai solusi yang paling sederhana, paling murah dan paling aman dalam mengatasi hipermetropi atau rabun dekat ini. Selain berfungsi memperjelas penglihatan, saat ini kaca mata sudah menjadi bagian dari fashion yang dapat memperbaiki penampilan.

Lensa kontak

Lensa kontak dapat digunakan untuk mengatasi rabun dekat dan memiliki fungsi yang sama seperti kacamata, namun karena ringan dan tidak terlihat, beberapa orang lebih memilih menggunakan lensa kontak dibandingkan kacamata.

Konsultasikan dengan optometrist untuk mengetahui lensa kontak yang sesuai dengan Anda, karena lensa kontak tersedia dari berbagai bahan dan desain. Infeksi mata dapat terjadi jika tidak menjaga kebersihan lensa kontak dengan baik. Tanyakan kepada dokter atau optometrist tentang cara pemakaian dan penyimpanan lensa kontak yang baik dan benar.

Kacamata

Kacamata yang digunakan untuk mengatasi rabun dekat memiliki lensa yang ujungnya lebih tebal dibandingkan bagian tengah atau disebut dengan lensa cembung, yang bisa membuat fokus secara akurat karena sinar cahaya akan jatuh di atas retina.

Tingkat keparahan rabun dekat yang dialami akan berpengaruh pada ketebalan, berat, dan lengkungan lensa yang harus digunakan. Seiring bertambahnya usia, lensa mata akan makin kaku dan mungkin memerlukan kacamata yang makin kuat.

Operasi

Operasi yang paling dapat diandalkan untuk mengatasi rabun dekat adalah operasi laser untuk meningkatkan lengkungan kornea agar cahaya bisa lebih terfokus.

Operasi laser memiliki risiko kerusakan dan infeksi yang lebih kecil dibandingkan dengan operasi tradisional karena dalam operasi laser tidak menggunakan alat yang memasuki mata.

Pasien yang menjalani operasi laser tidak perlu dirawat inap di rumah sakit. Perawatan ini biasanya memerlukan waktu sekitar satu jam. Pasien yang telah menjalani operasi laser harus memeriksakan diri kembali ke klinik atau rumah sakit.

Berikut ini adalah tiga tipe utama operasi laser yang dapat mengatasi rabun dekat:

-Laser in situ keratectomy (LASIK). LASIK adalah operasi yang menggunakan laser untuk mengubah bentuk kornea dan merupakan prosedur yang paling sering digunakan.
-Photorefractive keratectomy (PRK). PRK menggunakan laser untuk menyingkirkan sedikit jaringan kornea sehingga mengubah bentuk kornea.
-Laser epithelial keratomileusis (LASEK). LASEK juga menggunakan laser untuk mengubah bentuk kornea, namun menggunakan alkohol untuk mengendurkan permukaan kornea sebelum akhirnya diangkat.